Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Minggu, Maret 22, 2009

Serba-serbi Pemilihan Umum Legislatif

Inilah spanduk-spanduk aneh yang ada di Deltamas Cikarang….Siapa yang berminat mencoblos mereka?

P2200195

Bangga donk dg produk lulusan lokal (he..he.. sori mbak)

P2200201

Naik perahu mo mudik kemana ya?

oh, mau naik jabatan coy… bukan wakil bupati lagi tapi wakil rakyat.

cid:image009.jpg@01C99374.A623C020

Anggota OSIS jadi caleg ya, gud luck dech….

P2200208

Poster Ini maksudnya apa ya???? ngajak Kampanye pemilu, atau…????

P2200205

Foto keluarga artis lagi lebaran atau mau kampanye nih?

P2200206

TRENGGINAS apa ya?

cid:image010.jpg@01C99374.A623C020

Pemilu jalan terus, silaturahmi tetap terjaga kan? (sori nih poster lg ketiup angin)

Flu Burung Ternyata Rekayasa Senjata Biologi AS & WHO?

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's Time for the World to Change. Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. "Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta , Kamis (21/2).

Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO. "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya. Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.

"Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan denganpenerbitan besar," katanya. Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua. "Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang
saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush
," ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini. Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran. "Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran. Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.

Mengubah Kebijakan


Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.
Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun. Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005. Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung. "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih
berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman
virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The Economist.

The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam, Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong? Fadilah merasa ada sesuatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.

Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi. Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.

Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin. Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima . Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia? Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.

Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya. Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia , yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia. Dan, perlawanan itu tidak sia-sia.. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO diakhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.


Sumber:

INI BUKUNYA MENKES FADILAH BIKIN GERAH AS-WHO

Sabtu, November 08, 2008

PANTASKAH KITA SENANG DENGAN KEMENANGAN OBAMA?

Beberapa hari lalu Amerika Serikat baru saja punya presiden baru (walaupun secara hukum diakui pada Januari 2009 nanti), tetapi hampir seluruh rakyat dunia menanggapinya dengan suka cita. Obama sebagai seorang warga Amerika pertama dari golongan kulit hitam patut berbangga diri jika fenomena kemenangannya ternyata telah membuat semua warga dunia bagaikan sedang terhipnotis oleh suasana kemenangan tersebut. Begitu hasil pemilihan diumumkan oleh berbagai lembaga survei terkenal ke masyarakat, semua mulai gembira, semua mulai senang, dan semua.....
Bahkan kita yang di Indonesia pun turut larut dalam "pesta" kemenangan tersebut. Lihat saja bagaimana orang Amerika (baca:bule) merayakan kemenangan tersebut di hotel-hotel mewah. Lihat juga orang Indonesia yang ikut pesta tersebut. Orang-orang Indonesia tersebut merayakan kemenangan tersebut bagaikan mereka yang baru dapat presiden baru, bagaikan mereka mendapat keberuntungan yang tiada taranya, dan bagaikan gilanya mereka bahwa ketika mereka sadar bahwa Obama dulu pernah tinggal di Indonesia, Menteng tepatnya, punya orang tua tiri laki-laki orang Indonesia, Lolo Soetoro namanya, bahwa Obama kecil bernama Barry Soetoro, dan orang-orang Indonesia pun merasa punya kedekatan emosional dengan si "presiden kulit hitam" pertama Amerika itu.
Rasanya tidak ada salahnya ketika kita turut juga merayakan sedikit saja kemenangan itu. Lagipula kemajuan Amerika akan turut mempengaruhi "sedikit" kemajuan di Indonesia. Siapa tahu kalau Obama menang kita orang Indonesia "mudah-mudahan" kena cipratan kemajuan Amerika.
Saya sendiri pada awalnya menyambut baik kemenangan tersebut, karena pada dasarnya saya lebih menyukai figur Obama daripada McCain apalagi Sarah Palin, yang Afrika itu benua saja dia tidak tahu, malahan dikatakan negara dan Afrika Selatan dikatakan adalah bagian negara Afrika tersebut (aneh, masak calon orang kedua Amerika nilai Geografinya sangat rendah).
Tetapi syukurlah bagi saya bahwa kesenangan dan kegembiraan tersebut tidak lama bercokol di dalam dada ini. Segera keluar setelah saya banyak membaca beberapa berita di berbagai media massa cetak maupun elektronik, mengenai bagaimana kebijakannya yang sangat-sangat pro Israel Zionis (maaf:LAKNAT) dan tak memandang sedikit pun penderitaan rakyat Palestina yang sampai saat ini terkungkung dalam belenggu penjajahan Israel. Apa sebab? Pasti kita bisa jawab, ya karena pada awal pencalonan sebagai kandidat konvensi calon presiden dari Demokrat dulu Obama didukung komunitas Yahudi Amerika. Sudah bukan barang rahasia nan tertutup lagi jika seorang Amerika ketika hendak menang dalam pemilihan seperti itu maka yang paling dahulu didekati adalah Yahudi Amerika yang ternaungi dalam organisasi AIPAC. Kenapa? Ya karena merekalah pemegang sebenarnya kendali perekonomian Amerika. Sudah tidak aneh jika ada data yang mengatakan bahwa 10 orang kaya teratas Amerika adalah semua Yahudi. Maka untuk mendapatkan dana kampanye sebanyak-banyaknya adalah mengeruk kekayaan tersebut. Nah, lantas kompensasinya? Bodoh kalau kita beranggapan kalau setiap pemberian tersebut tanpa balas budi setimpal, bodoh kalau kita beranggapan kalau dengan sukarela Yahudi itu menyerahkan uangnya kepada tim kampenye Obama. Salah satu budi yang perlu dibalas dan yang "bau"nya paling menohok hidung adalah perlindungan yang perlu dijaga bagi Israel oleh Amerika. Gampangkan? Maka agar meyakinkan orang Yahudi Amerika itu, Obama sampai rela-relanya menyatakan bahwa dibawah kepemimpinannya Amerika adalah sekutu terkuat dan terkarib Israel dan akan melindungi sepenuhnya hak Israel atas Yerusalem, serta sampai rela-relanya Obama melakukan doa di depan tembok ratapan di dekat Masjidil Aqsa. Sampai demikian? Ya.
Itu belum seberapa jika kita bandingkan dengan keputusan Obama yang mengangkat seorang mantan tentara Israel menjadi Kepala Staf Gedung Putih, namanya adalah Rahm Emanuel. Sumber-sumber di Partai Demokrat mengatakan, Emanuel kemungkinan besar menerima tawaran tersebut dan ia akan menjadi orang paling penting dalam lingkaran baru pemerintahan Obama. Ia berhasil menjadi orang dekat Obama lewat sahabat karibnya, David Axerold yang juga konsultan politik Emanuel. Sebelum masuk ke lingkaran Obama, Emanuel menjadi penasehat politik Bill Clinton, saat menjabat sebagai presiden AS.
Radio dan media massa Israel dalam laporannya menyebutkan bahwa Emanuel yang lahir di daerah pendudukan Yerusalem, pernah bertugas di kemiliteran Israel sebagai relawan dan pernah ditempatkan di wilayah utara Israel saat Perang Teluk 1991. Ayah Emanuel adalah bekas tentara Irgun, tentara bawah tanah bagian dari gerakan kelompok Yahudi ultra-nasionalis yang melakukan perlawanan terhadap pasukan Inggris dan mengusir orang-orang Palestina menjelang terbentuknya negara ilegal Israel pada tahun 1948. Ketika menjadi penasehat di pemerintahan Clinton, Emanuel dikenal sebagai ahli strategi dan dipandang sebagai salah satu arsitek kebijakan-kebijakan kontroversial AS.
"Saya adalah orang yang dikenal temperamental, pendendam, suka bicara keji dan kejam. Dan itulah yang selalu dikatakan ibu saya yang suka membual tentang diri saya," kata Emanuel dalam kesempatan makan malam bersama dengan para wartawan setahun lalu. Israel tentu saja senang mendengar kabar Obama akan menunjuk Emanuel sebagi kepala staff Gedung Putih-nya. Surat kabar Israel Maariv dalam headlinenya bahkan menyebut Emanuel sebagai "Orang kami (Israel) di Gedung Putih."
"Jelas dia akan memberikan pengaruh yang besar pada presiden agar lebih pro-Israel," kata ayah Emanuel pada surat kabar Maariv. Sementara situs Israel Ynet menulis, "Emanuel adalah seorang pro-Israel dan tidak akan mau menerima tawaran jabatan itu kecuali dia yakin bahwa presien terpilih Obama juga pro-Israel."
Itulah salah satu kenyataan pahit yang ternyata bagi orang Indonesia (terutama Muslim) dainggap suatu kemenangan (victory) ketika si Barry Obama menang dalam ajang pencarian presiden Amerika. Bukankah kita orang Islam memiliki hubungan antara sesama Muslim lebih erat dan lebih utama bahkan di atas hubungan darah? Bukankah jika ada Muslim yang terkena aniaya dari orang kafir maka wajib bagi kita melindunginya? Kita tentu tahu itu, tetapi kita lebih individualis, menganggap tidak penting. Tidak ada salahnya ketika orang berkata "ngapai sih kita repot-repot mikirin Palestina, lha negara sendiri belum becus?." Itu memang tidak salah.
Tetapi alangkah bersalahnya kita ketika ada Muslim di belahan bumi lain menderita, sedangkan kita malah merayakan kemenangan orang yang jelas-jelas menolong sampai "patah lehernya" kaum yang memang mau memerangi Islam dan Muslim?

Minggu, Oktober 19, 2008

Pemilu 2009 Sudah Hampir Tiba


Pemilu 2009 sudah diambang mata. Kampanye oleh berbagai kalangan pun telah bertebaran dimana-mana. Kampanye saat ini banyak dilakukan oleh parti politik, calon anggota legislatif, dan para calon presiden kita berikutnya. Di alam demokrasi seperti saat ini tidak ada salahnya dan tidaklah berdosa atau sah-sah saja jika setiap warga negara Indonesia mencalonkan diri mereka sebagai calon wakil rakyat di parlemen maupun sebagai pemimpin negara ini berikutnya. Tinggal bagaimana sebagai seorang calon wakil rakyat mapun pemimpin kita melihat kembali kedalam diri kita sendiri, ajukan pertanyaan apakah saya sudah mampu menjalankan amanah ini jika nantinya saya terpilih menjadi wakil rakyat atau pemimpin negeri ini sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Alloh maupun sumpah jabatan saya kepada bangsa ini? Apa kompetensi saya sehingga saya merasa mampu menjalankan itu semua? Bagaimana cara saya agar ketika sampai waktunya dapat mempertanggunggjawabkan tugas yang maha berat ini kepada Sang Kholiq?
Kini zaman sudah berubah, masyarakat yang dulunya pasif dan melakukan apa saja keinginan penguasa kini telah mampu mengangkat kepala dan mulai berani untuk menyatakan 'nanti dulu' bahkan tidak kepada setiap perintah penguasanya. Masyarakat kini sudah jauh lebih pintar dibandingkan 30-40 tahun yang lalu. Masyarakat yang dulunya diam dibawah rezim Orde Lama, masyarakat yang penuh rasa ketakutan dan cemas dibawah rezim Orde Baru kini dapat menyatakan semua opini mereka tanpa merasa takut dan sungkan hal tersebut terlarang apalagi haram bagi mereka.
Sudah bukan zamannya lagi kalau kini politisi hanya mampu memberikan janji saja. Sudah bukan saatnya lagi kalau politisi saat ini hanya mampu bagus dan ideal jika berada pada kondisi sulit saja (baca: kampanye). Saatnyalah kini jika anda mampu berjanji, maka anda harus pula berani menepati, jika anda mampu bermulut manis saat kampanye, maka saatnyalah kini anda juga harus mampu bermanis kerja ketika anda telh dipilih.
Seperti iwan fals bilang dalam lirik lagunya:

Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR

Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili

Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari sabang sampai merauke

Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi para juara
Juara diam, juara he'eh, juara ha ha ha......

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu "setuju......"

Nah, kalau anda sebagai calon wakil rakyat atau calon pemimpin bangsa ini hanya bisa seperti itu, maka mundurlah secara teratur dan berikan jalan yang lebar bagi mereka yang memang lebih bisa adan berkompetensi untuk itu.
Rakyat jangan mau memakan bulat-bulat janji mereka saat kampenye, kalau perlu lihat latar belakang dan kehidupan mereka sebelum ini. Kalau kelakuan mereka sebelum mencalonkan saja sudah buruk dan hal itu tidak banyak berubah saat mereka mencalonkan diri mereka untuk jabatan tersebut, maka ada baiknya anda tidak ragu-ragu mengiliminasi mereka itu.
Rakyat jangan mau lagi dibahagiakan oleh politisi busuk itu hanya satu atau dua hari saja, tetapi penderitaan yang akan ditanggung oleh rakyat bisa terjadi selama empat tahun mendatang bahkan lebih. Maka pesan saya untuk semua rakyat Indonesia pilihlah pilihan anda secara cermat, jangan mau dimingi-imingi oleh kesenangan sesaat padahal dibalik itu ada penderitaan yang lebih panjang siap mendatang.
Semoga kita menjadi bangsa yang besar, besar bukan karena kejelekan kita dan keburukan kita dimata bangsa lain, tetapi besar karena kebaikan dan keunggulan kita yang dibangun dengan susah payah dibanding bangsa lain.
VIVA INDONESIA